FIFO, LIFO, AVERAGE: Dampaknya terhadap Usaha Anda
Metode menilai persediaan menentukan angka HPP dan laba Anda. Ini penjelasan praktisnya.
Saat barang dibeli dengan harga berbeda-beda dari waktu ke waktu, muncul pertanyaan: saat barang terjual, harga modal yang mana yang dipakai? Jawabannya menentukan HPP dan laba Anda. Ada tiga metode.
FIFO (First In, First Out)
Barang yang masuk pertama dianggap dijual lebih dulu. Cocok untuk barang yang punya kedaluwarsa (makanan, obat). Saat harga naik, FIFO membuat HPP lebih rendah → laba terlihat lebih besar (dan pajak bisa lebih tinggi). FIFO diakui PSAK dan paling umum dipakai UMKM.
AVERAGE (Rata-rata Tertimbang)
HPP memakai harga rata-rata seluruh stok. Sederhana dan stabil — tidak terlalu terpengaruh fluktuasi harga. Juga diakui PSAK.
LIFO (Last In, First Out)
Barang yang masuk terakhir dianggap dijual lebih dulu. Saat harga naik, HPP jadi tinggi → laba (dan pajak) lebih kecil. Tidak diakui PSAK untuk pelaporan resmi di Indonesia, jadi hanya untuk analisis internal.
Contoh singkat
Beli 10 pcs @Rp10.000, lalu 10 pcs @Rp12.000. Jual 10 pcs:
- FIFO: HPP = 10 × 10.000 = Rp100.000 (yang lama dulu).
- AVERAGE: HPP = 10 × 11.000 = Rp110.000.
- LIFO: HPP = 10 × 12.000 = Rp120.000.
Beda metode, beda laba — padahal barang & penjualannya sama.
Pilih yang mana?
Untuk mayoritas UMKM, FIFO adalah pilihan aman: sesuai PSAK, mudah dipahami, dan cocok untuk barang yang punya umur simpan. Mio ERP mendukung FIFO dan Average, dan menghitung HPP otomatis setiap penjualan — jadi Anda tidak perlu menghitung manual.
Kasir + stok + pembukuan dalam satu aplikasi. Mulai gratis.
Daftar Gratis